Pertamina Mengalami Kerugian Sebesar Rp 11 Triliun

 

Pertamina Mengalami Kerugian Sebesar Rp 11 Triliun Pada Semester I Tahun 2020

 

PT Pertamina (Persero) merupakan perusahaan BUMN terbesar di Indonesia yang aktif dibidang hulu dan hilir industri minyak dan gas bumi. Pada semester I 2020, Pertamina mengalami kerugian besar yang mencapai US$767,92 juta atau setara dengan Rp 11,3 Triliun.

Diduga ada dua penyebab terjadinya kerugian yang dialami oleh Pertamina pada semester I tahun ini, yaitu pemerintah yang diduga tidak membayar utang kepada Pertamina dan yang kedua disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang sedang melanda Indonesai saat ini.

Ditulis di Kompas, menurut penilaian Ekonom Senior Faisal Basri, apabila piutang pemerintah Indonesia yang mencapai Rp 45 triliun, kemungkinan Pertamina tidak akan merugi hingga Rp 11,3 triliun. “Piutang pemerintah sudah masuk ke kas Pertamina. Itu berarti Pertamina tidak rugi. [Pemerintah] utangnya kira-kira Rp 45 triliun, ruginya [Pertamina] Rp 11 triliun. Nah, Desember 2019 kemarin cash flow tidak ada, jadi tidak bisa bayar utang,” ujar Faisal dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Senin (31/8/2020).

Ditulis di Okezone, VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menjelaskan sepanjang semester I-2020 Pertamina menghadapi triple shock yang diakibatkan pandemi Covid-19 yakni penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi BBM di dalam negeri serta pergerakan nilai tukar dolar yang berdampak pada rupiah sehingga terjadi selisih kurs yang cukup signifikan. “Pandemi COVID-19, dampaknya sangat signifikan bagi Pertamina. Dengan penurunan demand, depresiasi rupiah, dan juga crude price yang berfluktuasi yang sangat tajam membuat kinerja keuangan kita sangat terdampak,” ujarnya.

Pada fiencedetik.com, dituliskan pukulan pertama yang menyebabkan kerugian Pertamina, yaitu cashflow Pertamina turun tajam akibat penjualan yang menurun drastis. Pada Desember 2019 penjualan pertamina mencapai 7,8 ribu KL, kemudian berangsur turun di Januari 2020 7,5 ribu KL, Februari 2020 7,1 ribu KL, Maret 2020 7 ribu KL, April 2020 6 ribu KL, Mei 2020 6,21 ribu KL dan Juni 2020 6,64 ribu KL.

Pukulan kedua, fluktuasi nilai tukar rupiah. Tercatat dolar AS di akhir 2019 di posisi Rp 13.900, lalu pada masa pandemi terus meroket hingga tembus Rp 16.000 lebih. "Kita sangat terdampak sekali, karena buku kita dalam dolar AS, sementara revenue kita dalam rupiah. Kita belanja crude dengan dolar AS, sehingga sangat terdampak sekali. Ini yang menyebabkan secara buku kita mengalami rugi selisih kurs yang sangat tajam," terangnya.

Pukulan ketiga, penurunan harga minyak mentah Indonesia atau ICP yang menjadi acuan Pertamina. Penurunan harga justru membuat Pertamina memiliki tambahan beban, sebab yang terjadi justru adanya tumpukan stok karena turunnya konsumsi BBM jenis tertentu.

Menurunnya konsumsi BBM pada saat pandemi Covid-19 dikarenakan terjadinya lockdown dan PSBB yang menyebabkan masyarakat Indonesia berdiam diri di rumah dan tidak berpergian keluar rumah yang menyebabkan masyarakat melakukan pekerjaanya dari rumah untuk menghindari terpaparnya Covid-19 ini. ‘

Menurut Fajriyah, periode Februari hingga Mei 2020 merupakan masa-masa terberat Pertamina dengan volume demand yang terus mengalami penurunan tajam akibat pandemi Covid-19. Namun seiring pemberlakuan new normal tren penjualan Pertamina melonjak naik.

Pertamina juga harus menghadapi tekanan tambahan berupa penurunan pendapatan di sektor hulu, total pendapatan Pertamina, yang tercantum dalam Laporan Keuangan unaudited Juni 2020 turun hingga 20 persen.

Menurut Fajriyah, Pertamina secara operasional tetap berjalan dengan baik, termasuk dalam distribusi BBM dan LPG ke pelosok negeri.


 

Daftar Pustaka

 

https://economy.okezone.com/read/2020/08/28/320/2268957/5-fakta-pertamina-rugi-rp11-triliun-ahok-dihujat-netizen

https://finance.detik.com/energi/d-5153949/3-pukulan-telak-covid-19-yang-bikin-pertamina-rugi-rp-11-t

https://money.kompas.com/read/2020/09/01/070912026/direktur-keuangan-pertamina-buka-bukaan-penyebab-rugi-rp-11-triliun?page=all

 

 

Comments